2

Sebuah layanan yang disediakan oleh platform tertentu untuk pembuatan website gratis tentunya sangatlah menguntungkan kita.

Bagaimana tidak, kita bisa belajar tata cara membuat situs dengan tampilan menarik, mengatur navigasi, membuat artikel yang enak dibaca, hingga faktor SEO tanpa harus mengeluarkan modal sedikit pun.

Dengan kata lain, website gratis ini bisa memberikan kita fasilitas dalam meningkatkan skill dan pengalaman sebelum benar-benar terjun ke dunia bisnis yang lebih real.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa mengakses pembuatan website gratis tersebut?

Ada banyak jalan untuk bisa mencapai Jakarta, begitupun dengan website gratis. Namun, kita hanya akan membahas 2 platform saja, yang mana keduanya merupakan jenis yang paling banyak digunakan oleh blogger Indonesia.

Membuat Website Gratis di WordPress

Ini rahasianya, sebagian besar blogger dan webmaster di Indonesia menggunakan platform wordpress.

Jadi jika kamu belajar di tempat ini dengan membuat website gratis dan praktek langsung, maka ilmu tersebut dapat digunakan dalam jangka panjang.

Faktanya, banyak para penyedia jasa pembuatan website yang masih menggunakan platform ini sebagai bagian dari bisnis mereka.

Hanya saja perbedaan terletak pada tempat untuk mengaksesnya. Khusus untuk yang gretongan, maka bisa langsung menengok ke wordpress.com.

Sementara untuk berbayar harus mendownload package-nya di wordpress.org kemudian di-upload di hosting pribadi.

Membuat Website Gratis di Google

Sementara itu ada saingan wordpress dan menduduki urutan kedua dari platform website yang paling banyak digunakan, yakni Blogger dari Google.

Bisa kamu akses melalui situsnya di blogger.com dengan gratis. Sekalipun masuk ke dalam kategori Web 2.0, akan tetapi kita bisa mengubah alamat situs kita menjadi TLD.

Namun buat yang gratisan, maka alamat situsnya akan berakhiran .blogspot.com. Misalnya kamu ingin membuat situs Jokowi, maka alamatnya menjadi jokowi.blogspot.com.

Berbeda dengan wordpress yang lebih mengutamakan tampilan berbasis PHP, blogger lebih cenderung mengarah pada kemampuan dalam membaca bahasa pemrograman HTML.

Akan tetapi saat website sudah jadi, biasanya tampilannya tersebut susah dibedakan antara satu sama lain karena keduanya memang memiliki kemiripan dari sisi navigasi, UX, dan tema.

By admin